4 Tips Untuk Melakukan Validasi Ide Sebelum Memulai Bisnis

validasi bisnis

Keraguan dalam memulai bisnis pasti dialami oleh para entrepreneur. Biasanya, keraguan tersebut muncul karena Anda tidak yakin dengan ide bisnis yang dimiliki. Anda tidak sepenuhnya yakin bahwa ide bisnis dapat berjalan ataupun apakah ada orang yang bersedia membeli produk atau jasa Anda. Di sisi lain, Anda juga belum siap untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat Anda bekerja sekarang.

Kalau sudah begini, apakah mungkin bagi Anda untuk memvalidasi ide bisnis sembari tetap bekerja? Ya, tentu saja. Anda hanya perlu melakukan beberapa tips berikut ini.

Membuat sebuah grup feedback

Dilansir Inc.com, Ryan Robinson, seorang entrepreneur sukses dan penulis internasional, menyarankan Anda untuk membuat sebuah grup feedback awal berisi orang-orang yang termasuk target konsumen Anda. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa Anda memang menciptakan produk yang benar-benar mereka butuhkan sehingga mereka bersedia membelinya.

Sebelum itu, Anda harus mengetahui masalah atau tantangan apa yang hendak Anda highlight dan jelaskan kepada grup. Jika sudah siap, barulah Anda bisa memulai menghubungi orang-orang yang sekiranya juga cocok menjadi calon konsumen Anda. Sebagai langkah awal, Anda bisa menghubungi teman, keluarga, rekan kerja, mantan rekan kerja, teman sekolah dulu, hingga sesama anggota di komunitas tertentu. Kumpulkan mereka, lalu minta feedback atas ide bisnis Anda. Setelah itu, tanyakan pula apakah mereka mengenal orang lain yang sekiranya akan tertarik dengan ide bisnis Anda.

Lakukan percakapan one-on-one dengan target konsumen

Dengan membuat sebuah grup feedback, Anda telah membangun komunitas kecil. Jangan berhenti sampai di sini saja. Anda harus terus menjalin komunikasi dengan mereka. Setelah mendapat feedback tugas Anda selanjutnya adalah menentukan fitur atau nilai apa yang akan menjadi value proposition produk, yang memiliki peluang besar untuk menarik perhatian audiens.

Caranya adalah dengan mengadakan percakapan one-on-one bersama target konsumen. Mungkin memang akan makan banyak waktu, tetapi hasilnya Anda justru mendapatkan banyak informasi detail yang akan sangat berguna untuk ide bisnis. Anda bisa bertanya tentang masalah yang sedang dihadapi terkait hal tertentu, fitur apa yang paling mereka inginkan dari suatu produk, hingga apakah mereka bersedia membayar produk Anda jika dijual nanti.

Kembangkan keunggulan kompetitif

Secara mendasar, keunggulan kompetitif, atau competitive advantage, dapat dikatakan sebagai kemampuan perusahaan untuk mengungguli para kompetitornya. Pada titik ini, Anda telah mengantongi informasi dari percakapan dengan target konsumen Anda. Kini saatnya Anda menyesuaikan ide bisnis awal Anda dengan feedback dan informasi yang didapatkan dari target konsumen.

Dari sini, Anda bisa menentukan competitive advantage atau keunikan ide bisnis Anda yang sekiranya nanti dapat mengungguli kompetitor. Bentuk dari competitive advantage ini bisa bermacam-macam, mulai dari customer support, harga, branding, komunitas audiens yang telah Anda bangun, atau mungkin skill personal Anda sendiri dalam membangun ide bisnis tersebut.

Menciptakan Minimum Viable Product (MVP)

Minimum Viable Product (MVP) adalah produk yang dilengkapi beberapa fitur utama untuk diberikan kepada konsumen awal sehingga mereka dapat memberikan feedback. Dengan begini, Anda dan target konsumen bisa benar-benar menggunakan sebuah produk nyata dan memberi penilaian akurat.

Apabila Anda memiliki ide bisnis teknologi, misalnya seperti aplikasi smartphone, Anda bisa menggunakan layanan crowdsourcing untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan. Setelah MVP berhasil dibuat, Anda dan target konsumen awal bisa mengetes penggunaannya. Jika ternyata produk tersebut tidak menyediakan solusi seperti yang diinginkan, Anda bisa mengubah atau menyempurnakan ide bisnis Anda.


Ide bisnis yang bagus belum tentu dibutuhkan oleh target konsumen Anda. Karenanya, melakukan validasi ide bisnis merupakan hal yang penting untuk memastikan bahwa nantinya bisnis Anda bisa diterima dan memberikan solusi bermanfaat.

Sumber: Entrepreneur, Inc.