5 Brand yang Melakukan Kesalahan Besar di Media Sosial Pada Tahun 2017

social media blunders

Semua orang yang memiliki akun media sosial pasti pernah melakukan kesalahan saat menggunakan platform tersebut, entah itu kesalahan sesederhana typo atau hingga membuat pihak tertentu merasa tersinggung dengan konten yang di-share. Hal tersebut sebetulnya wajar terjadi.

Namun, jika Anda mengelola akun media sosial brand dengan jumlah followers yang sudah cukup banyak, setiap langkah Anda pasti akan diwaspadai. Karenanya, jangan sampai Anda melakukan kesalahan seperti yang dilakukan beberapa brand besar ini pada 2017 lalu.

Dove

dove tweet

Pada 6 Oktober 2017, Dove mengunggah sebuah video Facebook Ads. Dalam video tersebut, terlihat seorang wanita berkulit gelap yang melepas kaus berwarna senada lalu bertransformasi menjadi wanita berkulit putih setelah menggunakan produk Dove. Tidak perlu waktu lama hingga orang-orang melayangkan kritik pedas kepada Dove atas iklan yang dianggap sangat rasis tersebut. Atas kesalahannya itu, Dove telah secara resmi meminta maaf dan berkata bahwa mereka “missed the mark”.

Ternyata itu bukan pertama kalinya Dove membuat iklan yang dianggap rasis. Sebelumnya, Dove juga pernah membuat sabun iklan di mana wanita berkulit gelap digambarkan sebagai orang yang kotor dan kumuh.

Pepsi

pepsi campaign

Brand minuman soda ini sebenarnya memiliki misi yang mulia, yakni menyampaikan pesan persatuan dan kedamaian melalui iklan mereka. Sayangnya, iklan yang mereka tampilkan justru mendapatkan backlash. Iklan tersebut menampilkan barisan gerakan Black Lives Matter yang berhadapan dengan polisi. Untuk “mendamaikan” kedua pihak tersebut, muncul Kendall Jenner yang membawa minuman Pepsi kepada keduanya. Alhasil, banyak orang menganggap bahwa Pepsi meremehkan gerakan Black Lives Matter karena isu tersebut tak bisa hanya diselesaikan dengan sebotol Pepsi.

Snapchat

snapchat blunder

Di sebuah user growth meeting pada 2015 lalu, Evan Spiegel selaku CEO Snapchat dikabarkan pernah mengutarakan pernyataan yang cukup ofensif, bahwa ia tidak ingin melakukan ekspansi ke “negara miskin” seperti India dan Spanyol. Dua tahun setelah itu, tepatnya pada April 2017, Anthony Pompliano, salah satu karyawan Snapchat, membeberkan tentang pernyataan tersebut.

Bisa ditebak reaksi yang muncul setelahnya, terutama dari warga India. Mereka menciptakan hashtag #BoycottSnapchat, menguninstall aplikasi dari perangkat mereka, dan memberikan rating satu bintang di iTunes Store.

Adidas

blunder adidas

Setiap tahunnya, kota Boston di Massachusetts, Amerika Serikat, mengadakan acara maraton bernama Boston Marathon. Sebagai brand perlengkapan olah raga, Adidas ingin ikut meramaikan hype acara tersebut. Tahun lalu, setelah Boston Marathon selesai diadakan pada April 2017, Adidas mengirimkan email kepada para subscribers-nya dengan subject “Congrats, you survived the Boston Marathon!”.

Hal tersebut dianggap sangat tidak sensitif karena dianggap masih berhubungan dengan tragedi pengeboman Boston Marathon 2013 lalu. Begitu menyadari kesalahannya, Adidas langsung menyampaikan permohonan maaf melalui akun Twitter mereka.

McDonald’s

mcdonald twitter

Sehari setelah Thanksgiving, yang biasanya diadakan oleh warga Amerika Serikat pada hari Kamis keempat bulan November, seluruh toko di sana akan memberikan berbagai diskon dan promo dalam rangka Black Friday. McDonald’s pun tak mau ketinggalan untuk meramaikannya di Twitter. Namun, anehnya mereka hanya mengirimkan tweet seperti ini: Black Friday * Need copy and link *. Alhasil, tweet yang tampak belum komplet itu banyak mendapat serangan dari orang-orang.


Pengalaman adalah guru terbaik. Dengan mengetahui beberapa kesalahan besar yang terjadi di media sosial pada tahun lalu, diharapkan Anda bisa belajar dan menghindarinya. Good luck!

Sumber: Entrepreneur, Ranker

Join Us

Artikel - Artikel Terkait