5 Cara Mengurangi Bounce Rate pada Website Anda

bounce rate

Bounce rate adalah persentase jumlah pengguna yang mengunjungi website Anda dan memutuskan untuk pergi tanpa membuka halaman kedua. Tingkat bounce rate yang tinggi mengindikasikan bahwa Anda tidak mampu meyakinkan pengunjung untuk tinggal di website Anda dan melakukan hal yang Anda minta melalui Call to Action, misalnya seperti melakukan sign up.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan bounceback, mulai dari pengunjung yang mengklik link menuju website lain, mengklik tombol “back” untuk meninggalkan website, menutup window/tab, mengetikkan URL baru, dan lain sebagainya.

Meski terkesan buruk, bounce rate sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi dengan catatan persentasenya tidak mencapai 70% ke atas. Umumnya, rata-rata persentase bounce rate yang terdapat pada mayoritas website berkisar antara 50%-70%. Website Anda akan dianggap “excellent” apabila memiliki tingkat bounce rate hanya sebesar 30%-50%. Namun, kemungkinan besar website Anda mengalami error jika tingkat bounce rate mencapai angka 20% ke bawah.

Lalu, bagaimana caranya untuk meminimalisir bounceback sehingga persentase bounce rate bisa berkisar pada angka yang diinginkan?

Optimalkan penempatan Call to Action

Mayoritas pengguna biasanya memutuskan apakah mereka menyukai suatu website hanya dalam beberapa detik pertama kunjungannya. Beberapa bahkan melakukan penilaian hanya dengan melihat sekilas area-area yang menonjol tanpa melakukan scrolling. Anda bisa menggunakan perangkat analisis heatmap untuk menentukan area mana yang paling banyak diperhatikan pengunjung. Dari situ, Anda bisa mengoptimalkannya dengan menempatkan button CTA di sana. Buatlah CTA yang jelas dan jujur agak tidak menimbulkan misleading dan menciptakan pengalaman yang buruk bagi pengguna.

Tingkatkan pagespeed website

Pagespeed adalah waktu yang dibutuhkan halaman website Anda untuk melakukan loading konten. Seperti yang disebutkan sebelumnya, pengguna menilai suatu website hanya dalam beberapa detik pertama. Oleh sebab itu, jangan membuang waktu mereka dengan menampilkan halaman kosong karena proses loading. Menurut survei yang dilakukan oleh Stangeloop, delay yang hanya terjadi selama satu detik dapat menurunkan penjualan hingga 7%, 11% pageview berkurang, dan mengurangi kepuasan pengunjung hingga 16%. Anda bisa meningkatkan pagespeed dengan menggunakan perangkat-perangkat seperti Google Page Speed atau Pingdom.

Pasang foto berkualitas tinggi

Foto atau gambar adalah perangkat efektif lain yang dapat Anda gunakan untuk menurunkan bounce rate. Inilah mengapa ada banyak website yang menggunakan foro berkualitas tinggi sebagai background layar mereka. Perusahaan besar seperti Google yang dulunya terkenal dalam menggunakan background berwarna putih polos dan layout minimalis pun kini turut mencantumkan foto berkualitas tinggi pada landing page mereka. Anda bisa menggunakan jasa penyedia foto seperti Shutterstock. Beberapa website seperti StockSnap dan Unsplash bahkan menyediakan banyak foto berkualitas tinggi secara gratis.

Lakukan A/B Testing

a/b testing

Sudah mencantumkan CTA dan headline pada website tetapi persentase bounce rate masih saja tinggi? Kemungkinan besar salah satu atau bahkan keduanya tidak memberi performa yang diinginkan. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk melakukan A/B testing. Gunakan strategi yang berbeda pada dua halaman website sama dan terapkan A/B testing untuk mengetahui strategi mana yang bekerja paling baik. Anda juga bisa membuat landing page berbeda untuk berbagai macam target audiens berdasarkan lokasi, keywords, atau yang lain. Hal ini akan menimbulkan nilai personal yang membuat pengunjung website merasa lebih dihargai.

Buat konten yang mudah dibaca

Sepertinya hampir seluruh konten yang ada pada kebanyakan website hadir dalam bentuk teks. Bisa dibayangkan betapa pentingnya hal tersebut bagi pengalaman pengunjung website, bukan? Sayangnya, justru masih banyak yang mengabaikannya, padahal konten teks merupakan salah satu elemen penting dan krusial yang mampu membentuk ketertarikan visual. Anda harus memastikan bahwa teks pada website dapat dengan mudah dibaca melalui seluruh perangkat. Jangan sampai ukurannya terlalu kecil sehingga pengguna harus memicingkan mata atau melakukan zoom. Perhatikan pula hal-hal lain seperti warna, spasi, dan margin untuk membuat website Anda terlihat “bersih” dan tentunya enak dibaca.


Itulah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi bounceback atau persentase bounce rate pada website Anda. Pada dasarnya, Anda hanya harus mementingkan pengalaman pengguna, yang mencakup keseluruhan feeling dan kesan ketika mereka berinteraksi dengan website Anda. Pengalaman pengguna yang baik bisa terjadi ketika pengguna menilai bahwa website Anda tidak hanya mudah digunakan, tapi juga menyenangkan.

Sumber: Kissmetrics Blog, Optin Monster, Neil Patel

Join Us

Artikel - Artikel Terkait