5 Tips untuk Menyambut Generasi Millennial di Dunia Kerja

Millennial

Millennials are everywhere.

Menurut situs Huffington Post, kaum millennials adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-1999. Hingga saat ini, mereka menjadi generasi yang paling mahir teknologi dan paling toleran. Secara perlahan, kaum millennial mulai memasuki dunia kerja. Jika ingin membuat Anda terus up-to-date terhadap perubahan, merekrut karyawan dari generasi millennial merupakan salah satu langkah yang wajib ditempuh. Namun, bagaimana cara menghadapi mereka dalam dunia kerja?

Ciptakan lingkungan kerja yang fleksibel

Mayoritas kaum millennial tidak menyukai lingkungan kerja yang kaku. Selama hidupnya, mereka telah terbiasa untuk mempertanyakan berbagai hal, mengutarakan opini, menemukan solusi, dan mengambil keputusan mereka sendiri. Jadi, secara otomatis, lingkungan yang kaku kurang cocok dengan karakter mereka. Dilansir dari situs Inc.com, riset dari Griffith Insurance Educatin Foundation bahkan menyebutkan bahwa karyawan millennial bersedia mengorbankan sebagian gaji agar bisa memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Sediakan ruang dan kesempatan untuk belajar

Generasi millennial, terutama mereka yang lahir pada tahun 1990-an, tumbuh besar di dalam budaya yang mengutamakan kesegeraan (immediacy). Hal tersebut menjadikan mayoritas dari mereka cenderung tidak sabaran, menginginkan pengalaman baru, dan fokus pada target-target jangka pendek. Karenanya, Anda harus bisa membantu mereka menciptakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan baru. Misalnya, Anda bisa memberikan proyek-proyek berbeda secara bertahap sesuai dengan level kesulitannya. Hal ini akan membantu mereka untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Jangan “memancing” kaum millennial dengan uang

Bukannya kaum millennial tidak memahami nilai dari uang, hanya saja bagi mereka, uang bukanlah motivasi utama mereka. Apabila berhubungan dengan dunia kerja, mereka akan lebih termotivasi dengan budaya perusahaan yang dijunjung, mobilitas, fleksibilitas, kesempatan untuk melakukan networking, dan suasana yang santai. Uniknya, mereka juga cukup ambisius dalam karir. Kaum millennial mungkin tidak begitu memedulikan jabatan khusus dalam pekerjaan, tetapi mereka tertarik untuk mencapai jajaran eksekutif agar bisa memberi manfaat lebih kepada lingkungan mereka. Intinya, mereka paling termotivasi dengan budaya kerja yang dinamis.

Berikan feedback secara rutin

Generasi millennial memiliki kebutuhan untuk selalu belajar dan berkembang. Itulah mengapa Anda harus mengubah metode pemberian feedback di perusahaan Anda. Mungkin dari yang semula hanya diberikan sebanyak enam bulan sekali, kini Anda harus bisa memberikannya lebih sering dan rutin. Pasalnya, generasi millennial membutuhkan feedback tersebut untuk belajar. Feedback inilah yang menjadi salah satu motivasi mereka dalam menyelesaikan pekerjaan. Kebutuhan mereka ini tidak terlepas dari penggunaan internet dan media sosial yang menawarkan kecepatan komunikasi sehingga mereka pun mengaplikasikannya dalam dunia nyata.

Jangan halangi mereka untuk menggunakan teknologi

Salah satu hal yang paling menonjol dari generasi millennial adalah kemahiran mereka dalam menggunakan teknologi. Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, termasuk dalam lingkungan kerja. Situs Forbes bahkan menyebutkan bahwa 56% generasi millennial akan menolak tawaran perkerjaan apabila mereka tidak diperbolehkan mengakses media sosial selama bekerja. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda tidak melarang mereka untuk menggunakan teknologi dan media sosial. Sebaliknya, manfaatkan kemahiran generasi millennial untuk membuat bisnis Anda lebih visible di dunia online.


Tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran generasi millennial di dunia kerja merupakan suatu tantangan, tetapi di sisi lain hal tersebut dapat menjadi sebuah peluang. Manajer dari generasi sebelumnya dapat belajar lebih banyak tentang kehidupan zaman sekarang dari para karyawan millennial.

Sumber: When in Work, The Huffington Post, Forbes, Inc Blog

Artikel - Artikel Terkait