6 Kesalahan dalam Penerapan Strategi Media Sosial

strategi media sosial

Seiring maraknya penggunaan media sosial, banyak perusahaan, baik itu kecil maupun besar, turut mengaplikasikannya untuk mengembangkan bisnis. Sayangnya, tidak jarang strategi yang diterapkan, justru gagal. Sebagai contoh, tidak terdapat feedback dari follower, jumlah follower Anda tidak berkembang, atau tidak ada engagement antara brand Anda dengan follower. Apa yang sekiranya menjadi penyebab gagalnya strategi yang sudah Anda terapkan?

1. Kurangnya konten yang di-post

Jika kekurangan konten, artinya Anda akan hilang dari pantauan follower. Walaupun Anda telah menjadwalkan beberapa post, Anda tetap saja harus mengunggah post lain di sela-selanya untuk mengisi kekosongan. Post ini bisa berupa berita terbaru atau sesuatu yang terkait dengan post yang sudah Anda jadwalkan. Pastikan Anda selalu aktif pada semua akun media sosial Anda.

2. Terlalu banyak konten yang di-post

Sebaliknya, terlalu sering untuk memposting konten juga tidak baik, karena bisa membuat follower jenuh. Jika follower merasa terganggu, tidak menutup kemungkinan mereka akan meng-unfollow akun Anda. Untuk itu, Anda harus terus memantau perkembangan apa yang Anda post. Periksa post mana yang sekiranya diminati dan tidak diminati oleh follower. Jika Anda sudah mengetahui mana yang kurang atau tidak diminati, Anda bisa mengurangi post selanjutnya yang terkait dengan post tersebut. Sebaliknya, untuk post yang diminati, bisa Anda tambahkan informasi terkait lainnya untuk mengisi jarak antar post.

Bayangkan jika Anda yang berada di posisi follower, ketika Anda membuka akun media sosial Anda dan Anda melihat barisan post dari akun yang sama, bukankah membosankan? Intinya, hindari meng-upload terlalu banyak, juga dalam waktu yang terlalu dekat. Untuk hal ini, Anda bisa menggunakan Hootsuite Analytics.

3. Anda tidak memonitor

Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, memonitor apa yang unggah adalah hal yang wajib Anda lakukan. Anda juga sebaiknya mencari tahu apa topik apa yang sedang banyak dibicarakan, apa yang sedang dilakukan oleh kompetitor, hashtag atau keyword apa yang bisa Anda gunakan. Dari sini pula, Anda bisa mengetahui banyak hal lain, misalnya, berapa jumlah post yang Anda unggah setiap hari, pada jam berapa post Anda memiliki impresi tertinggi, dsb.

4. Terlalu menekankan pada promosi

Media sosial memang berperan penting dan sangat membantu dalam hal promosi, namun, bukan berarti Anda boleh melakukan kegiatan promosi secara berlebihan. Media sosial juga penting untuk meningkatkan hubungan dengan follower, dengan cara sekadar untuk berbagi informasi atau mengunggah sesuatu yang berfungsi untuk menarik perhatian follower. Tentu saja, mengunggah sesuatu yang bisa disukai oleh banyak orang bukanlah perkara yang mudah. Maka, sediakan waktu untuk membaca ulasan yang sedang hangat dibicarakan, bergabung dengan komunitas yang terkait dengan bisnis Anda dan dengan influencer.

5. Anda mengabaikan follower

Sangat penting untuk selalu memeriksa timeline dan notifikasi akun-akun media sosial Anda. Ingatlah, follower Anda ingin diperlakukan dengan baik. Caranya? Sebisa mungkin, jawablah jika ada pertanyaan yang masuk, respon, saran, dan kritik yang mereka utarakan, memberikan ‘like’ pada apa yang mereka post, turut memberi komentar pada pembicaraan mereka, dan sebagainya. Hal ini untuk memberitahukan pada follower, jika Anda peduli, dekat dan ada untuk mereka.

6. Anda hanya melakukan pola yang sama

Kegagalan lainnya, bisa jadi karena Anda melakukan pola yang monoton. Lakukan sesuatu yang baru dan berbeda. Misalnya, selain meng-upload konten yang umum, sesekali adakan kontes. Untuk ide, sebaiknya pilih sesuatu yang unik dan belum pernah dilakukan oleh kompetitor.


Hal lain yang tak kalah penting adalah Anda mesti memahami fungsi dari masing-masing jenis media sosial. Misalnya, jika produk Anda adalah makanan, sebaiknya Anda fokus pada Instagram dan Pinterest yang mengutamakan gambar. Anda juga mesti memahami serba-serbi mengenai audience dan target pasar Anda.

Semoga bermanfaat

Sumber: Forbes, Hootsuite Blog

Join Us

Artikel - Artikel Terkait