7 Model Product Pricing untuk Startup

Menerapkan harga produk

Salah satu kesulitan dalam membangun sebuah startup adalah bagaimana akan menentukan harga untuk produk atau pelayanan yang diberikan. Menentukan hal ini amat penting, karena secara tidak langsung akan berkaitan dengan beberapa hal seperti pendefinisian brand image Anda, kebutuhan finansial perusahaan dan kelangsungan bisnis Anda dalam jangka panjang.

Model pendapatan yang akan Anda pilih, pada dasarnya adalah strategi bisnis Anda dan kunci untuk mendapatkan keuntungan. Penentuan ini, harus didasari oleh karakteristik pasar, target audience Anda, pricing model yang digunakan oleh kompetitor Anda, dsb. Nah, strategi apa yang sekiranya tepat untuk startup Anda?

Berikut beberapa teknik dasar yang bisa Anda terapkan pada startup Anda :

1. Free Service

Teknik ini adalah teknik yang banyak dipakai oleh startup sekarang, di mana use-rnya tidak dikenakan biaya untuk menggunakan layanan dan pendapatan perusahaan diraih dari click- through advertising. Contoh yang menggunakannya ialah Twitter dan Facebook. Jika perusahaan Anda tidak memiliki dana yang kuat, sebaiknya Anda tidak memakai teknik ini.

2. Produk gratis tapi membayar pelayanan

Dalam teknik yang satu ini, user bisa menggunakan produk dengan gratis tapi dikenakan akan dikenalan bayaran untuk instalasi, kustomisasi, pelatihan dan jasa lainnya. Ini adalah teknik yang baik sebagai permulaan, tapi Anda harus menyadari bahwa ini pada dasarnya adalah bisnis jasa dengan produk sebagai biaya pemasaran.

3. Freemium Model

Ini adalah salah satu bentuk dari free model. Salah satu yang menggunakan teknik freemium ini adalah LinkedIn. Freemium artinya user menggunakan pelayanan dasar dengan gratis, tapi tersedia layanan premium yang berbayar sebagai tambahan. Di LinkedIn, ingatkah Anda, terkadang kita menerima email untuk meng-upgrade untuk dapat pelayanan lebih? Nah, inilah bagian yang berbayarnya.

4. Cost-Based

Ini sebeneranya adalah teknik tradisional, di mana harga yang Anda cantumkan biasanya 2-5 x lipat dari produk yang Anda jual. Jika produk Anda adalah suatu komoditas, mungkin margin Anda akan sangat tipis. Sebaiknya, teknik ini digunakan jika teknologi milik Anda mampu memberikan peningkatan.

5. Value-Based

Jika Anda bisa mengukur value yang besar dan penghematan pada pelanggan, maka tetapkan biaya yang sepadan. Strategi ini tidak tepat digunakan jika Anda menawarkan sesuatu yang dirasa oleh user adalah ‘nice to have’ seperti social networks. Lebih baik, teknik ini ditawarkan jika produk atau layanan Anda bisa memberikan suatu yang memiliki manfaat lebih bagi pelanggan.

6. Portfolio Pricing

Teknik ini bisa digunakan jika Anda memiliki beberapa pelayanan dan jasa sekaligus, masing-masing dengan utilitas dan biaya yang berbeda. Jadi, pada produk atau layanan A milik Anda, Anda menaikkan tarif, sedangkan pada layanan B, Anda menurunkan tarif. Intinya adalah untuk saling melengkapi dan menutupi.

7. Competitive Positioning

Dalam persaingan yang ketat, katakanlah, Anda memiliki beberapa kompetitor sejenis. Biasanya, Anda akan menurunkan harga untuk memperbanyak pengguna dan menaikkan harga ketika Anda hanya memiliki sedikit lawan atau produk dan layanan yang Anda miliki adalah sesuatu yang ‘langka’. Teknik ini mengharuskan Anda ekstra berhati-hati dalam menentukan harga karena bisa membayakan keuangan perusahaan.

Semoga artikel ini bermanfaat!

Sumber : Business Insider

Join Us

Artikel - Artikel Terkait