Cara Menyeimbangkan Kehidupan Personal dan Pekerjaan

work life balance

Hampir semua orang dewasa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Dilansir dari statista.com, Indonesia bahkan menempati posisi ketiga sebagai negara dengan keseimbangan paling buruk antara kehidupan dan pekerjaan. Hasil ini mengindikasikan sebagian besar orang Indonesia tidak memiliki cukup waktu untuk pertumbuhan dan pemenuhan pribadi. Lantas, apa yang harus Anda lakukan untuk memperoleh keseimbangan dalam membangun karir dan kehidupan di luar pekerjaan?

Definisikan kembali prestasi dan pencapaian

Apabila Anda adalah tipe orang yang bekerja keras untuk berada pada posisi karir Anda saat ini dan bangga terhadap setiap hal yang sudah lalui, maka penting bagi Anda untuk menyadari pula bahwa prestasi dan pencapaian di luar pekerjaan sangat penting untuk Anda lakukan. Sama halnya dengan berharganya berbagai prestasi dan pencapaian yang Anda raih di tempat kerja, Anda pun harus menyadari bahwa pencapaian di luar pekerjaan sangat penting bagi kehidupan sehari-hari.

Mulailah melakukan berbagai hal yang sudah Anda rencanakan di luar pekerjaan jika Anda ingin mulai membangun kehidupan di luar pekerjaan. Penuhi berbagai janji yang Anda berikan kepada diri sendiri seperti membaca buku yang Anda sukai hingga rencana belajar membuat roti. Sadarilah nilai yang terdapat pada usaha bisa memperluas personal skill, karena hal tersebut dapat berkontribusi bagi pertumbuhan Anda secara pribadi.

Mulai hal baru

Memberikan waktu kepada diri Anda untuk sibuk di luar urusan pekerjaan merupakan salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mendefinikasikan kembali berbagai kemampuan dan keterampilan yang Anda miliki di luar konteks karir Anda saat ini. Kesibukan tersebut tidak perlu harus sesuatu yang besar (jika besar pun boleh), yang terpenting kegiatan tersebut dapat membuat Anda memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Mencoba hal-hal baru akan membuat Anda sadar kembali terhadap apa yang sebenarnya dapat Anda capai di luar karir Anda. Apapun yang sudah Anda tetapkan untuk dimulai, jangan ragu untuk segera dilakukan. Hal ini bisa jadi cara pembuktian bagi diri Anda sendiri mengenai hal-hal lain yang bisa Anda selesaikan di luar pekerjaan Anda sekarang.

Batasi pembicaraan mengenai pekerjaan di rumah

Apakah Anda pernah berbicara tanpa henti mengenai pekerjaan saat sedang makan malam di rumah? Jika pernah, usahakan untuk tidak lagi melakukannya. Jika sangat sulit bagi Anda untuk tidak membahas urusan pekerjaan di rumah, maka tetapkanlah sebuah aturan. Misalnya, Anda hanya boleh berbicara mengenai pekerjaan selama setengah jam setelah tiba di rumah.

Jika kehidupan pekerjaan Anda menjadi kehidupan di rumah, maka itulah hidup Anda. Namun, untuk memperoleh kehidupan di luar pekerjaan, Anda harus mampu membedakan keduanya. Usahakan untuk menjalani berbagai aspek kehidupan Anda dengan memisahkannya satu dari yang lain untuk mendapatkan keseimbangan. Saat sedang di rumah, berusahalah untuk menghabiskan waktu Anda dengan orang-orang tersayang, alih-alih sibuk memikirkan pekerjaan.

Perluas lingkaran sosial

Dengan alasan sama seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, sebaiknya Anda mulai memperluas lingkaran sosial Anda untuk mendapatkan kembali kehidupan di luar pekerjaan. Anda butuh waktu untuk keluar dari kesibukan pekerjaan yang terkadang melelahkan. Jadi, memiliki teman-teman yang dapat membuat Anda rileks di luar lingkaran pekerjaan Anda dapat membantu memperoleh keseimbangan yang Anda butuhkan.

Selain memberikan diri Anda kesempatan untuk menjadi lebih rileks, Anda pun dapat lebih aman bercerita tentang masalah internal pekerjaan Anda dengan orang luar. Misalnya, mengeluh tentang keanehan yang dimiliki oleh manajer Anda hingga berbagai hal yang mungkin sulit untuk Anda ceritakan ke teman kerja. Memperluas lingkaran sosial Anda akan sangat membantu untuk membuat Anda lebih tenang dan memiliki kehidupan di luar pekerjaan.


Lakukan beberapa hal di atas untuk dapat membangun kehidupan dan identitas pribadi di luar pekerjaan Anda. Semoga bermanfaat!

Sumber: Harvard Business Review, CollectiveHub