Mengenal Email Bounce Back dan Cara Mengatasinya

email marketing

Tingkat bounce back pada email mengindikasikan kondisi list database Anda secara keseluruhan. Tingginya tingkat bounce menunjukkan bahwa list email Anda mengandung beberapa alamat yang tidak valid. Alamat-alamat tersebut tidak akan pernah menerima email Anda. Lebih penting lagi, jumlah email bounce back yang tinggi akan berpengaruh pada reputasi sender, dan membuat provider layanan email membatasi kemampuan Anda untuk mengirim pesan.

Maka, dapat dikatakan bahwa email bounce back adalah pesan dalam kampanye email yang tidak dapat dikirimkan. Tingkat bounce-nya dihitung dengan membagi jumlah email yang mengalami bounce back terhadap jumlah email yang berhasil dikirim. Hasilnya dinyatakan dalam bentuk persentase.

Apa penyebab dari email bounce back?

Bounce dapat terjadi secara “keras” (hard) atau “lunak” (soft). Hard bounce terjadi ketika pengiriman dilakukan kepada alamat email yang tidak valid, sedangkan soft bounce terjadi ketika server email menemui isu sementara, seperti kotak masuk yang sudah mencapai kapasitas.

Pada kasus soft bounce, pengiriman akan dilakukan beberapa kali. Umumnya, masalah soft bounce dapat diatasi dan pengiriman berjalan sukses. Namun, ketika soft bounce tidak dapat diatasi, maka statusnya berubah menjadi hard bounce. Penting untuk diingat bahwa hanya hard bounce yang masuk pada hitungan statistik tingkat bounce pada akhir kampanye.

Berapa rate yang tergolong sehat dalam bounce back?

Sebenarnya, email bounce back merupakan bagian alami dalam pengiriman email. Sebuah riset yang dilakukan oleh MailerMailer menunjukkan bahwa mailing setidaknya sekali dalam sehari mampu menghasilkan rata-rata bounce sebesar 0,3%. Di sisi lain, mailing yang dilakukan hanya sekali dalam sebulan justru menimbulkan rata-rata email bounce back hingga 3,8%.

MailerMailer juga mengukur bounce rate di 33 bidang bisnis yang berbeda. Bidang-bidang dengan tingkat bounce back tertinggi adalah science and biotechnology (3,9%), layanan IT (2,3%), healthcare (2,2%), dan layanan legal (2,2%). Sedangkan, bidang yang memiliki tingkat bounce back paling rendah adalah deals and coupons (0,2%); komputer, elektronik, dan software (0,4%); leisure, travel, dan tourism (0,5%); marketing, advertising, dan PR (0,5%); sports, fitness, dan recreation (0,5%); serta pemerintahan dan politik (0,5%).

Apa hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hal ini?

1. Gunakan proses double opt-in

Dengan menggunakan double opt-in list, orang yang telah melakukan sign up untuk menerima email melalui form Anda akan diminta untuk meng-confirm ketertarikan mereka dengan email. Meski terlihat lebih rumit, namun cara ini sudah terbukti mampu mengurangi tingkat bounce back. Nantinya, proses double opt-in list akan mengenyahkan alamat-alamat email yang tidak valid, termasuk di antaranya yang mengalami typo.

2. Melakukan pengiriman secara rutin

Berdasarkan riset dari MailerMailer yang telah disebutkan di atas, mailing yang dilakukan secara rutin cenderung memiliki bounce back lebih rendah. List yang aktif artinya melakukan pengiriman email setidaknya sekali dalam sebulan. Jika Anda sudah lama tidak menggunakan list, kemungkinan besar beberapa alamat email di dalamnya tidak lagi digunakan. Jadi, untuk menjaga agar tingkat bounce back tetap berada dalam batas minimum, kirimkan email secara rutin kepada database Anda.

3. Cantumkan opsi untuk unsubscribe

Memberi opsi untuk meng-unsubscribe atau meng-update alamat email akan mencegah adanya bounce back bahkan sebelum terjadi. Sebagai contoh, katakanlah ada seorang anggota list yang melakukan sign up dengan satu alamat email namun memutuskan untuk menggantinya dengan alamat lain. Ia bisa dengan mudah meng-update alamat email mereka pada bagian preferences. Orang tersebut pun tidak akan merasa “terkekang” karena tidak bisa “melepaskan diri” dari pesan email yang diterima.


Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengecek email bounce back dan melakukan perbaikan apabila hasil yang didapat ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi Anda. Meski terkesan “jadul” apabila dibandingkan dengan media sosial, email masih dapat menjadi media yang cukup efektif dalam menjalankan kampanye digital marketing.

Semoga bermanfaat!

Sumber: MailerMailer, Active Campaign

Join Us

Artikel - Artikel Terkait