Panduan Singkat Menciptakan Buyer Persona untuk Bisnis

Buyer Persona

Buyer persona adalah karakter yang muncul dalam pikiran Anda ketika membayangkan pembeli ideal produk Anda. Singkatnya, ia adalah representasi dari pelanggan ideal bisnis Anda. Menciptakan buyer persona dapat membantu Anda memahami target audiens Anda dengan lebih mendalam. Terlebih dari itu, buyer persona lah yang akan memudahkan proses penyusunan konten, pembuatan strategi pemasaran, pengembangan produk, dan lain sebagainya.

Namun, apakah buyer persona muncul begitu saja dalam pikiran atau imajinasi Anda?

Tentu saja tidak. Untuk menciptakan buyer persona, Anda membutuhkan data hasil market research dan insight yang didapatkan dari customer base bisnis Anda, baik melalui survei, interview, dan sebagainya. Tergantung dari skala bisnisnya, Anda bisa menciptakan 1-2 persona, atau bahkan hingga 20 persona. Jika ini adalah pertama kalinya Anda menciptakan buyer persona, berikut adalah panduan singkat untuk Anda.

Mengolah data dari analytic tools

Seperti yang disebutkan sebelumnya, menciptakan buyer persona harus didasarkan data yang akurat. Nah, untuk mendapatkan data tersebut, Anda membutuhkan beberapa tools. Kabar baiknya, ada cukup banyak sarana yang bisa Anda gunakan secara gratis untuk mendapatkan data. Salah satunya adalah Google Analytics yang dapat memberikan Anda informasi tentang pengunjung website Anda, mulai dari usia, berapa lama mereka menghabiskan waktu di website Anda, dan sebagainya.

Sebagai tambahan, Anda bisa mendapatkan data dari berbagai media sosial yang menawarkan fitur analytics seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube. Melalui analytics di media sosial, Anda bisa mengetahui siapa saja yang follow akun Anda, faktor demografinya, hingga hal-hal apa saja yang menjadi ketertarikan mereka.

Informasi apa saja yang dibutuhkan?

Analytic tools memang memberikan banyak data dan informasi bagi Anda sebagai dasar untuk membuat buyer persona. Namun, informasi apa saja yang sebetulnya benar-benar dibutuhkan untuk menciptakan buyer persona? Haruskah Anda menggunakan seluruh informasi hasil analytics? Atau hanya beberapa di antaranya?

Nah, berikut ini adalah beberapa elemen terpenting yang Anda perlukan untuk menciptakan buyer persona:

• Usia
• Jenis kelamin
• Lokasi
• Tingkat pendidikan
• Interests (olahraga, literatur, musik, dan sebagainya)
• Jabatan pekerjaan
• Rentang pendapatan bulanan
• Status (single, menikah, atau yang lain)
• Website favorit
• Motivasi pembelian (apa yang membuat persona mau membeli suatu produk?)
• Buying concern (apa yang dipertimbangkan persona saat membeli suatu produk?)

Lakukan interview dengan target audiens

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, data dari analytic tools tidak cukup. Anda harus melakukan interview untuk mengenal target audiens Anda lebih dalam lagi. Responden interview ini bisa mencakup pelanggan yang sudah pernah membeli produk Anda, prospek (orang yang belum pernah membeli produk Anda, tetapi masuk ke kategori target audiens), dan referral.

Agar bisa mendapatkan respon yang baik dari para responden, Anda bisa memberikan insentif sebelum wawancara berlangsung, misalnya sampel produk Anda. Pastikan untuk menjelaskan kepada responden sejak awal bahwa Anda hanya berniat melakukan riset untuk mengenali mereka dengan lebih baik, tanpa niat berjualan. Usahakan juga untuk jadi sefleksibel mungkin. Biarkan responden memilih tempat dan waktu yang diinginkan untuk interview agar mereka merasa nyaman.

Perlu juga membuat persona negatif

Buyer persona yang Anda buat dengan langkah-langkah di atas adalah persona positif. Dalam bisnis, ada juga yang disebut persona negatif. Sesuai namanya, persona negatif bertolak belakang dengan buyer persona Anda. Persona negatif adalah representasi orang-orang yang tidak Anda inginkan sebagai pelanggan Anda. Dengan “menyisihkan” orang-orang yang tidak Anda targetkan sebagai pembeli produk bisnis Anda,buyer persona Anda pun jadi lebih spesifik. Misalnya, produk yang Anda jual adalah pakaian wanita high end dengan harga tinggi. Berarti, Anda tidak menargetkan orang-orang yang berada di kelas sosial menengah ke bawah. Nah, mereka inilah persona negatif Anda.


Bisnis yang sukses berasal dari pemahaman yang baik mengenai target audiens. Hal ini bisa Anda raih dengan menciptakan buyer persona yang benar-benar sesuai target produk. Semoga panduan di atas dapat membantu Anda menciptakan buyer persona!

Sumber: buffer, Hubspot