Penggunaan Pendekatan Lean untuk Memvalidasi Ide Produk Anda

validasi produk

Sebagai pelaku bisnis, Anda sudah meluangkan banyak waktu dan mengerahkan pikiran dan tenaga untuk menciptakan sebuah produk. Tentunya Anda tidak ingin tenaga dan waktu yang telah diberikan tersebut berakhir sia-sia. Di sinilah Anda membutuhkan sebuah pendekatan “lean”. Metode ini dicetuskan oleh Eric Ries, seorang expert dalam bidang digital marketing sekaligus penulis buku berjudul The Lean Startup.

Untuk bisa menerapkan pendekatan lean, Anda akan melakukan empat langkah yang disebut dengan proses validasi lean. Melalui validasi, Anda akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: kelompok audiens mana yang harus dijadikan target? Masalah terbesar apa yang sedang dihadapi orang-orang saat ini? Produk apa yang akan membantu mengatasi masalah tersebut? Apakah orang-orang akan bersedia mengeluarkan uang apabila produk tersebut benar-benar ada? Apakah Anda sudah membuat produk yang tepat?

Validasi permintaan

Tujuan dari validasi permintaan adalah untuk menentukan potensi dari target audiens dan seberapa banyak potensi yang bisa Anda jangkau. Validasi permintaan menuntut Anda untuk bekerja secara realistis agar mampu menentukan ukuran market yang layak dijadikan target. Jika tidak, bisa-bisa Anda tidak memiliki permintaan yang sepadan dengan produk karena tidak sesuai dengan kapasitas masalah atau tidak mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan cara yang diinginkan pelanggan. Karenanya, pastikan agar jangkauan target audiens Anda sesuai dan ada cukup banyak orang yang bersedia membeli produk Anda.

Untuk melakukan validasi permintaan, Anda bisa menggunakan laporan industri. Cermati website milik kompetitor dan gunakan perangkat seperti comScore atau Compete untuk melakukan perbandingan. Google Adwords Keyword Planner juga dapat menjadi perangkat yang efektif dalam validasi permintaan, yakni dengan mencari tahu berapa banyak pencarian yang terkait dengan market Anda dalam sebulan.

Validasi masalah

Tujuan dari validasi masalah sudah jelas, yakni untuk menemukan masalah nyata atau pain point yang dihadapi oleh target audiens sehigga produk Anda bisa difokuskan untuk mengatasi masalah tersebut. Anda sudah menentukan target audiens Anda, berarti sekarang saatnya mengunjungi tempat-tempat yang biasa mereka datangi dan perhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Mereka bisa ditemukan di tempat-tempat “nyata”, tetapi tidak jarang pula mereka lebih mudah dijangkau secara online, misalnya melalui forum diskusi, grup Facebook, dan lain sebagainya.

Tanyakan berbagai pertanyaan terbuka tentang masalah yang mereka alami. Hal ini akan membantu Anda dalam mempelajari bagaimana orang-orang melakukan hal-hal tertentu, mengapa mereka bertindak seperti itu, dan solusi apa yang sedang mereka terapkan untuk mengatasi masalah tersebut. Carilah suatu pola, misalnya seperti kelompok orang yang melakukan hal sama atau mengutarakan komplain serupa. Perlu diingat bahwa terkadang pengguna tidak menyadari adanya masalah hingga mereka ditunjukkan solusinya, yaitu berupa produk Anda.

Validasi produk

Hanya ada satu cara yang bisa Anda lakukan untuk memastikan bahwa produk Anda mampu menyelesaikan masalah yang Anda fokuskan, yakni membuat sebuah prototype. Tidak perlu membuat prototype sempurna, yang terpenting masih dapat digunakan sesuai dengan tujuan awal Anda. Begitu selesai membangun prototype, Anda harus melakukan uji coba terhadap target audiens untuk mendapatkan feedback dan mengevaluasinya. Ketika membangun prototype, jangan takut untuk menjadi kreatif. Lakukan identifikasi terhadap inti produk Anda dan pikirkan cara-cara terbaik untuk menguji coba dengan sederhana. Melakukan uji coba dapat menjadi sangat mengintimidasi, terutama jika Anda belum pernah melakukannya.

Validasi kemampuan membayar

Salah satu tantangan terbesar yang kerap dihadapi ketika melakukan validasi satu ini adalah Anda tidak bisa mempercayai perkataan orang begitu saja. Anda pasti pernah bertemu dengan target audiens yang setuju dengan perkataan Anda, tetapi ketika diminta untuk melakukan aksi tertentu, mereka mendadak menghilang atau berubah pikiran. Padahal, sebagai pebisnis, Anda ingin agar orang-orang bersedia menyerahkan uang mereka sebagai ganti dari produk yang Anda berikan.

Untuk mengatasi hal tersebut, pastikan bahwa produk yang Anda tawarkan pada website telah memiliki penjelasan lengkap. Lakukan highlight terhadap Unique Selling Point (USP) produk Anda. Jangan ragu untuk mencantumkan isu yang ditemui beberapa pengguna ketika fase testing, namun sertakan pula solusi yang telah Anda terapkan untuk menyelesaikan isu tersebut. Pastikan pula bahwa halaman pembayaran memiliki kolom pengisian email sehingga Anda bisa mengumpulkan informasi kontak dari pelanggan potensial.


Itulah empat proses validasi yang harus Anda lakukan jika ingin menerapkan pendekatan lean pada bisnis Anda. Ingat, prosesnya mungkin akan memakan waktu yang tidak sebentar, jadi Anda harus bersabar terus berusaha memperbaiki setiap isu yang ditemui ketika melakukan uji coba.

Semoga bermanfaat!

Sumber: Mind The Product, Smashing Magazine

Join Us

Artikel - Artikel Terkait