Pivot Bisnis di Masa Pandemi

Pandemi menuntut perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat sehingga tidak sedikit bisnis yang kemudian mengubah dan mendesain ulang produk atau layanan mereka, bahkan membuat produk atau layanan baru untuk mengakomodasi kebutuhan para pelanggan.

Inilah yang disebut pivot bisnis, yaitu aktivitas pengembangan bisnis dengan mengubah model bisnis, namun tetap berpijak pada inti bisnis yang telah dibangun sebelumnya. Istilah ini diambil dari salah satu teknik gerakan dalam olahraga basket yang dilakukan untuk mengubah arah dengan tetap berpijak pada salah satu kaki.

Pivot bisnis biasanya dilakukan ketika perusahaan membuat perubahan mendasar pada bisnis setelah menemukan bahwa produk atau layanan yang saat ini mereka miliki tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar.

Lima bisnis global maupun nasional yang telah melakukan pivot bisnis.

1. Halodoc

Perusahaan health-tech ini mulai melakukan pivot pada Maret 2020 dengan memfasilitasi lebih dari 200 ribu tes rapid dan PCR. Halodoc juga melakukan drive through rapid test di beberapa kota besar dan merilis chatbot bernama Chat with Doctor untuk memfasilitasi para pengguna yang ingin berkonsultasi, baik terkait kesehatan fisik maupun jiwa. Sampai saat ini, Halodoc telah bermitra dengan 200.000 dokter, ribuan farmasi di lebih dari 100 kota untuk pengiriman obat, dan sudah memiliki 20 juta pengguna aktif tiap bulannya.

2. Ecodoe

E-commerce yang fokus pada penjualan souvenir yang dibuat khusus oleh perajin lokal ini mulai mengembangkan strategi bisnisnya selama pandemi dengan memberdayakan komunitas penjahit dan UMKM lokal yang biasanya memproduksi baju lebaran untuk membuat masker kain dan baju alat pelindung diri (APD). Dalam waktu tiga hari, Ecodoe bisa menerima pesanan lebih dari 200.000 unit masker dan baju APD.

3. Toko Kopi Tuku

Sukses memproduksi kopi murah berkualitas, Toko Kopi Tuku kembali membuat terobosan baru di tengah pandemi dengan menghadirkan Tukucur, yaitu kopi susu kemasan dalam bentuk botol sebanyak satu liter. Dengan menghadirkan produk ini, Tuku dapat mengakomodasi kebutuhan pelanggannya untuk bisa menikmati kopi tanpa harus datang berulang kali ke tokonya. Bahkan, para pelanggan juga bisa memesannya melalui online marketplace. Inovasi ini kemudian diadopsi oleh beberapa coffee shop lainnya.

4. IKEA

Ritel peralatan rumah tangga asal Swedia ini memiliki toko di 38 negara dan mempekerjakan lebih dari 211.000 orang. Selama pandemi, bisnis e-commerce IKEA tetap beroperasi penuh meski toko fisiknya ditutup sehingga e-commerce menjadi landasan bisnis IKEA untuk meningkatkan pengalaman belanja online bagi pelanggan. Untuk itu, IKEA menghadirkan layanan baru seperti fitur pengiriman tanpa sentuhan Click & Collect untuk melindungi pelanggan dan pekerja dari penyebaran COVID-19.

5. Airbnb

Airbnb mengambil inisiatif global baru untuk membantu menampung 100.000 tenaga kesehatan, relawan, dan first responder di seluruh dunia selama pandemi dan membebaskan biaya menginap yang sudah diatur melalui inisiatif ini. Melalui inisiatif ini, Airbnb bekerja sama dengan organisasi nonprofit dan lembaga pemerintahan terkemuka dengan ribuan relawan yang ada di ratusan negara dan komunitas tuan rumah yang mendukung aksi sosial tersebut selama pandemi.

Jika bisnis Anda terus mengalami penurunan, mungkin saatnya melakukan pivot agar bisnis Anda dapat bertahan dan terus berkembang di masa pandemi.

Manfaatkan program Zero Fee dari Midtrans dan dapatkan segala kemudahan menerima pembayaran dan mengirim dana tanpa potongan apa pun. Daftar di midtrans.com/zerofee maksimal tanggal 15 Oktober 2020.